Anak-anak abg (anak baru gede) atau para remaja yang terlibat dalam perilaku "sexting" atau "chat sex"- suatu pertukaran digital berupa pesan dan gambar seksual pribadi - dianggap berisiko membahayakan secara psikologis, sosial dan reputasi yang tidak dapat diperbaiki, terutama jika gambar-gambar itu 'bocor' dan tersebar.
Diskusi yang ada seputar sexting pada anak muda dibentuk oleh asumsi gender tentang sifat praktik dasar remaja. Sering kali disebutkan bahwa para remaja wanita paling berisiko, yang karena hormon, para remaja pria yang digerakkan libidonya memaksa remaja wanita yang rentan untuk melakukan sexting, dan kemudian membagikan gambar-gambar tersebut pada kelompok teman sebaya mereka.
Dosen Kriminologi di University of Surrey, Dr Setty melakukan wawancara dengan 41 remaja berusia 14 hingga 18 tahun untuk memahami perspektif mereka tentang risiko dan bahaya sexting; bagaimana pria membangun identitas heteroseksual maskulin; dan bagaimana hal ini membentuk praktik dan persepsi orang muda.
Studi ini menemukan bahwa para remaja pria membangun nilai dari sexting bahwa mereka 'pahlawan' dan 'laki' dengan mendapatkan dan mendistribusikan gambar remaja wanita, dan mengejar pemuasan seksual, objektifikasi wanita, mengontrol dan mendapat pencapaian yang ditandai praktik-praktik sexting pada remaja pria.
Namun, saat para remaja pria ini senang melihat foto-foto dari rekan mereka terkait tubuh remaja wanita, mereka menghindari pencapaian 'poin anak laki' berisiko, memilih tidak berpartisipasi aktif dalam sexting tentang diri mereka sendiri.
Temuan ini menantang gagasan bahwa praktik sexting yang berbahaya hanya timbul dari dinamika gender yang tidak merata yang memengaruhi remaja wanita. Posisi remaja pria dalam budaya sexting remaja adalah berbahaya, karena mereka tunduk pada ekspektasi seputar maskulinitas dalam hal penampilan dan tindakan mereka. Selanjutnya, normalisasi perilaku sosial mempermalukan oleh pria sebagai 'olok-olok' dan penekanan pada remaja pria untuk menunjukkan ketahanan tampaknya akan mengaburkan tingkat kesulitan yang mereka hadapi sebenarnya.
Dr. Setty mengatakan, “Risiko dan rasa malu tidak memengaruhi lanskap sosial bagi remaja pria maupun remaja wanita. Saat seks diposisikan sebagai hal yang sah untuk remaja pria, mengekspresikan maskulinitas melalui sexting lebih berbahaya."
“Temuan ini memiliki implikasi pada pemahaman yang lebih besar tentang maskulinitas remaja dan menantang persepsi pria remaja yang semata-mata mencari nilai dalam budaya sexting remaja. Namun, narasi risiko dan rasa malu yang terus-menerus dapat berarti bahwa saat remaja pria menjauhkan diri dari sexting, asumsi gender dan ketidaksetaraan mengenai ekspresi tubuh dan seksual - yang memengaruhi remaja pria dan wanita - akan terus menjadi ciri budaya sexting remaja.”
University of Surrey

Comments
Post a Comment