Peneliti di University of Delaware menyelidiki kaitan antara perilaku tidur siang dan fungsi neurokognitif pada para remaja ABG dan menemukan beberapa hal penting untuk membantu mereka mengatasi kelelahan.
Dalam sebuah studi yang didanai National Institutes of Health, asisten profesor Sekolah Perawat Xiaopeng Ji dan peneliti utama Jianghong Liu (University of Pennsylvania) memasuki ruang kelas di Cina. Dengan responden dari sekolah-sekolah yang ada di Jintan, ia mengukur tidur siang, durasi tidur malam dan kualitas tidur, serta kinerja pada beberapa tugas neurokognitif.
Ji tertarik pada hubungan antara tidur dan kognisi. Sebagai akibat tuntutan belajar dan pendidikan yang intensif, populasi remaja menjadi kuncinya. Fungsi neurokognitif sangat penting dalam pembelajaran, emosi dan kontrol perilaku. Temuannya menunjukkan bahwa ada hubungan antara kebiasaan tidur siang dan fungsi neurokognitif, terutama di Cina, yang menjadikan tidur siang sebagai praktik budaya.
"Tidur siang cukup kontroversial di Amerika Serikat. Dalam budaya Barat, pola tidur monophasic dianggap sebagai penanda kematangan otak," kata Ji. "Di Cina, waktu tidur siang dimasukkan ke dalam jadwal setelah makan siang pada kebanyakan orang dewasa di lingkungan kerja dan siswa di sekolah."
Ji telah mempelajari ritme sirkadian tidur (siklus 24 jam seseorang). Perubahan perkembangan terjadi dalam ritme sirkadian selama masa remaja; ritme remaja bergeser satu hingga dua jam lebih lambat dari periode pra-remaja.
"Penundaan fase ini secara biologis digerakkan saat remaja," kata Ji. "Coba pikirkan itu saat jadwal sekolah. Remaja harus bangun pagi untuk sekolah. Dan, dengan fase penundaan ini yang baru bisa tidur nanti, mereka berisiko kekurangan tidur kronis."
Ji menjelaskan bahwa para remaja ini mungkin mengalami gangguan fungsi neurokognitif, yang membuat perhatian di sekolah menjadi lebih sulit. Kemampuan memori dan penalaran juga turut terkena dampak.
Penurunan sirkadian ini terjadi setiap hari dari jam 12 hingga jam 2 siang. Selama periode itu, remaja lebih cenderung tertidur. Di sekolah AS, siswa tidak memiliki kesempatan formal untuk melakukannya.
"Sepanjang masa kanak-kanak, anak-anak AS mengalami penurunan kecenderungan tidur siang. Anak-anak dilatih untuk menghapus perilaku tidur siang mereka," kata Ji. "Sebaliknya di Cina, jadwal sekolah memungkinkan anak-anak untuk mempertahankannya."
"Hasil dari studi laboratorium mungkin berbeda dari apa yang biasa dilakukan penduduk di rumahnya - tidur di tempat tidur mereka sendiri," kata Ji.
Banyak penelitian ada pada orang dewasa, tetapi itu tidak terjadi pada remaja. Kurangnya literatur ini memotivasi Ji untuk melakukan tugas itu. Dan karena jadwal sekolah Amerika adalah penghalang untuk menemukan lebih banyak informasi, peneliti menggunakan data Cina di University of Delaware dan studi kolaboratif Universitas Pennsylvania.
Temuan-Temuan Penting
Ji meneliti dua dimensi perilaku tidur siang - frekuensi dan durasi. Mereka yang tidur siang rutin, yakni tidur siang lima sampai tujuh hari dalam seminggu, memiliki perhatian yang berkelanjutan, kemampuan nalar nonverbal yang lebih baik dan memori spasial. Berapa lama tidur siang juga menjadi pertanyaan penting. Titik yang terbaik adalah antara 30 hingga 60 menit. Tidur siang lebih dari satu jam mengganggu ritme sirkadian.
Responden yang tidur antara 30 hingga 60 menit menghasilkan akurasi yang lebih baik dalam tugas-tugas perhatian serta kecepatan yang lebih cepat. Dia menyarankan untuk tidak tidur setelah jam 4 sore, atau tidur siang berlebihan.
Para peneliti terkejut menemukan hubungan positif antara tidur siang dan tidur malam, yang berbeda dari literatur. Mereka yang terbiasa tidur siang (nappers) cenderung memiliki tidur malam yang lebih baik.
"Itu berbeda dari temuan di Amerika Serikat, di mana tidur siang dapat berfungsi sebagai fungsi untuk menggantikan tidur yang hilang dari malam sebelumnya. Akibatnya, itu dapat mengganggu tidur malam berikutnya," kata Ji.
"Di Cina, tidur siang tengah hari dianggap sebagai gaya hidup sehat. Para nappers rutin lebih cenderung mengalami tidur malam yang sehat. Jadi para nappers rutin pada dasarnya dilatih untuk tidur nyenyak dan tidur lebih banyak di malam hari."
Ji secara jelas menyatakan bahwa penelitian ini bersifat observasional. Pada titik ini, dia tidak dapat menyimpulkan kausalitasnya. Dia berharap penelitian ini dapat menginformasikan penelitian masa depan dan kebijakan kesehatan masyarakat.
University of Delaware
Dalam sebuah studi yang didanai National Institutes of Health, asisten profesor Sekolah Perawat Xiaopeng Ji dan peneliti utama Jianghong Liu (University of Pennsylvania) memasuki ruang kelas di Cina. Dengan responden dari sekolah-sekolah yang ada di Jintan, ia mengukur tidur siang, durasi tidur malam dan kualitas tidur, serta kinerja pada beberapa tugas neurokognitif.
Ji tertarik pada hubungan antara tidur dan kognisi. Sebagai akibat tuntutan belajar dan pendidikan yang intensif, populasi remaja menjadi kuncinya. Fungsi neurokognitif sangat penting dalam pembelajaran, emosi dan kontrol perilaku. Temuannya menunjukkan bahwa ada hubungan antara kebiasaan tidur siang dan fungsi neurokognitif, terutama di Cina, yang menjadikan tidur siang sebagai praktik budaya.
"Tidur siang cukup kontroversial di Amerika Serikat. Dalam budaya Barat, pola tidur monophasic dianggap sebagai penanda kematangan otak," kata Ji. "Di Cina, waktu tidur siang dimasukkan ke dalam jadwal setelah makan siang pada kebanyakan orang dewasa di lingkungan kerja dan siswa di sekolah."
Ji telah mempelajari ritme sirkadian tidur (siklus 24 jam seseorang). Perubahan perkembangan terjadi dalam ritme sirkadian selama masa remaja; ritme remaja bergeser satu hingga dua jam lebih lambat dari periode pra-remaja.
"Penundaan fase ini secara biologis digerakkan saat remaja," kata Ji. "Coba pikirkan itu saat jadwal sekolah. Remaja harus bangun pagi untuk sekolah. Dan, dengan fase penundaan ini yang baru bisa tidur nanti, mereka berisiko kekurangan tidur kronis."
Ji menjelaskan bahwa para remaja ini mungkin mengalami gangguan fungsi neurokognitif, yang membuat perhatian di sekolah menjadi lebih sulit. Kemampuan memori dan penalaran juga turut terkena dampak.
Penurunan sirkadian ini terjadi setiap hari dari jam 12 hingga jam 2 siang. Selama periode itu, remaja lebih cenderung tertidur. Di sekolah AS, siswa tidak memiliki kesempatan formal untuk melakukannya.
"Sepanjang masa kanak-kanak, anak-anak AS mengalami penurunan kecenderungan tidur siang. Anak-anak dilatih untuk menghapus perilaku tidur siang mereka," kata Ji. "Sebaliknya di Cina, jadwal sekolah memungkinkan anak-anak untuk mempertahankannya."
"Hasil dari studi laboratorium mungkin berbeda dari apa yang biasa dilakukan penduduk di rumahnya - tidur di tempat tidur mereka sendiri," kata Ji.
Banyak penelitian ada pada orang dewasa, tetapi itu tidak terjadi pada remaja. Kurangnya literatur ini memotivasi Ji untuk melakukan tugas itu. Dan karena jadwal sekolah Amerika adalah penghalang untuk menemukan lebih banyak informasi, peneliti menggunakan data Cina di University of Delaware dan studi kolaboratif Universitas Pennsylvania.
Temuan-Temuan Penting
Ji meneliti dua dimensi perilaku tidur siang - frekuensi dan durasi. Mereka yang tidur siang rutin, yakni tidur siang lima sampai tujuh hari dalam seminggu, memiliki perhatian yang berkelanjutan, kemampuan nalar nonverbal yang lebih baik dan memori spasial. Berapa lama tidur siang juga menjadi pertanyaan penting. Titik yang terbaik adalah antara 30 hingga 60 menit. Tidur siang lebih dari satu jam mengganggu ritme sirkadian.
Responden yang tidur antara 30 hingga 60 menit menghasilkan akurasi yang lebih baik dalam tugas-tugas perhatian serta kecepatan yang lebih cepat. Dia menyarankan untuk tidak tidur setelah jam 4 sore, atau tidur siang berlebihan.
Para peneliti terkejut menemukan hubungan positif antara tidur siang dan tidur malam, yang berbeda dari literatur. Mereka yang terbiasa tidur siang (nappers) cenderung memiliki tidur malam yang lebih baik.
"Itu berbeda dari temuan di Amerika Serikat, di mana tidur siang dapat berfungsi sebagai fungsi untuk menggantikan tidur yang hilang dari malam sebelumnya. Akibatnya, itu dapat mengganggu tidur malam berikutnya," kata Ji.
"Di Cina, tidur siang tengah hari dianggap sebagai gaya hidup sehat. Para nappers rutin lebih cenderung mengalami tidur malam yang sehat. Jadi para nappers rutin pada dasarnya dilatih untuk tidur nyenyak dan tidur lebih banyak di malam hari."
Ji secara jelas menyatakan bahwa penelitian ini bersifat observasional. Pada titik ini, dia tidak dapat menyimpulkan kausalitasnya. Dia berharap penelitian ini dapat menginformasikan penelitian masa depan dan kebijakan kesehatan masyarakat.
University of Delaware
Comments
Post a Comment