Anak Krakatau tidak stabil bisa picu tsunami lebih banyak, begini peringatan para ahli


Setelah gelombang laut kuat yang disebabkan erupsi gunung berapi Anak Krakatau menewaskan ratusan orang dan menyapu pemukiman di sepanjang pesisir pantai Selat Sunda, serta mengejutkan para pemantau bencana yang umumnya berfokus pada gempa bumi, kini para ahli mengeluarkan peringatan lain: Tsunami lain bisa menghantam Indonesia di kawasan Selat Sunda dan sekitarnya.

Apakah yang menyebabkan tsunami?

Sementara ini banyak peristiwa tsunami sering dipicu oleh kejadian gempa bumi, namun dalam peristiwa yang terjadi di kawasan Selat Sunda, para ahli percaya bahwa gelombang mematikan tersebut dihasilkan oleh letusan gunung berapi Anak Krakatau, yang bisa menyebabkan longsoran tanah bawah laut yang besar atau mengalirnya batuan cair ke dalam air laut.

Tsunami itu "tampaknya disebabkan keruntuhan di bawah air" dari bagian gunung berapi, kata David Rothery, seorang profesor geosains planet di Universitas Terbuka Inggris.

Anak Krakatau adalah sebuah pulau yang muncul sekitar tahun 1928 di kawah yang ditinggalkan oleh Krakatau, yang letusannya yang besar pada tahun 1883 menewaskan sedikitnya 36.000 orang.

Tsunami yang melanda pada hari Sabtu malam lalu adalah bencana alam ketiga yang melanda Indonesia dalam enam bulan terakhir ini di tahun 2018.

Indonesia memiliki 127 gunung berapi aktif dan juga terletak di "Cincin Api" Samudra Pasifik tempat sering terjadi gempa bumi dan letusan gunung berapi.


Mengapa tsunami Selat Sunda itu begitu mematikan?

Anak Krakatau, terletak di Selat Sunda antara pulau Jawa dan Sumatera, posisinya berdekatan dengan daerah padat penduduk.

Gunung berapi ini telah aktif sejak Juni lalu, kata Jacques-Marie Bardintzeff di Universitas Paris-South.

"Kita tidak berdaya mengingat betapa mendadaknya" peristiwa itu terjadi, kata Bardintzeff. "Waktu antara sebab dan akibat hanya beberapa menit, yang terlalu singkat untuk memperingatkan penduduk."

Gelombang laut pembunuh di Selat Sunda tersebut menghantam pada malam hari, menyapu pantai wisata dan permukiman di dataran rendah di kedua sisi Selat Sunda dan membuat baik penduduk dan pemantau bencana sama sekali tidak sadar.

"Tanda-tanda bahwa tsunami datang tidak terdeteksi sehingga orang tidak punya waktu untuk mengungsi," kata juru bicara Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Indonesia Sutopo Purwo Nugroho, yang menyalahkan perusakan peralatan di lapangan, permasalahan teknis, dan anggaran terbatas karena kurangnya pelampung peringatan.

Tetapi Rothry dari Universitas Terbuka Inggris mengatakan pelampung seperti itu, yang biasanya diposisikan untuk memantau gempa bumi di batas lempeng tektonik bawah laut, tetap saja masih akan memiliki kemanjuran terbatas.

"Bahkan jika pun ada pelampung seperti itu tepat di sebelah Anak Krakatau, tempat ini terlalu dekat dengan garis pantai yang terkena dampak sehingga waktu pemberian peringatan akan menjadi minimal mengingat tingginya kecepatan dari gelombang tsunami yang bergerak."

Simon Boxall dari Universitas Southampton mengatakan kawasan tersebut saat itu sedang mengalami pasang, "dan akan terlihat bahwa gelombang menghantam beberapa daerah pesisir pantai pada titik tertinggi pasang ini, yang memperburuk kerusakan yang terjadi".

Sementara tsunami yang muncul relatif kecil, Richard Teeuw, seorang ahli pengurangan risiko bencana di University of Portsmouth di Inggris mengatakan: "Gelombang semacam itu — yang sarat dengan puing-puing - bisa mematikan bagi masyarakat pesisir, terutama jika tidak ada peringatan."


Bisakah muncul tsunami-tsunami lain?

"Tsunami dahsyat yang disebabkan oleh letusan gunung berapi jarang terjadi; salah satu yang paling terkenal (dan mematikan) adalah yang disebabkan letusan Krakatau pada tahun 1883," kata Teeuw.

"Kemungkinan tsunami berikutnya di Selat Sunda tetap akan tinggi ketika gunung berapi Anak Krakatau tengah melalui fase aktif saat ini, karena hal itu yang mungkin memicu tanah longsor bawah laut berikutnya," katanya.

Survei berbasis sonar sekarang diperlukan untuk memetakan dasar laut di sekitar gunung berapi, tetapi "sayangnya survei kapal selam biasanya membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk disiapkan dan dikerjakan," tambahnya.

Bardintzeff memperingatkan "kita harus waspada sekarang, karena gunung berapi tersebut (Anak Krakatau) sudah tidak stabil".



Physorg

Comments