Anak-anak yang berusia tiga tahun sudah mampu menilai siapa yang memiliki satu barang berdasarkan lokasinya, menurut sebuah studi dari University of Waterloo.
Temuan ini juga menunjukkan bahwa anak-anak dapat merasakan kepemilikan suatu barang tanpa harus melihat seseorang berinteraksi dengan barang itu. Mereka secara intuitif tahu siapa yang memiliki barang tersebut, bahkan meski orang tuanya tidak menunjukkan hal itu kepada mereka.
"Penelitian sebelumnya melihat bagaimana anak-anak memahami kepemilikan suatu objek setelah seseorang berinteraksi dengan objek itu atau membicarakannya. Namun di dunia nyata, kita dikelilingi objek yang tidak ada orang yang berinteraksi atau dekat dengannya, dan itu tetap hal penting untuk diketahui siapa memiliki apa," kata Brandon W. Goulding, peneliti utama dan kandidat PhD di Departemen Psikologi.
"Salah satu cara yang dapat kita lakukan adalah menyadari seluruh area berada di bawah kepemilikan seseorang, dan karena itu, kita dapat menyimpulkan segala sesuatu di area tersebut dimiliki oleh orang itu. Dengan begitu, Anda tidak perlu khawatir untuk belajar ratusan hubungan individu pemilik-barang."
Penelitian ini melibatkan anak-anak yang berusia tiga hingga lima tahun. Dalam serangkaian percobaan, para peserta diperlihatkan slide yang menggambarkan dua halaman dibagi oleh jalan dan mengatakan satu rumah milik seseorang dan yang lain tetangganya. Setiap halaman berisi berbagai benda seperti bunga atau mesin pemotong rumput. Tanpa diberitahu informasi apa pun tentang benda-benda itu, anak-anak diminta untuk menentukan apakah mereka milik orang itu atau tetangganya.
Anak-anak dari segala usia dalam penelitian ini dapat menyimpulkan bahwa orang tersebut memiliki benda-benda di halamannya, tetapi bukan benda di halaman tetangga. Peserta masih dapat menyimpulkan tentang kepemilikan ketika orang tersebut dipindahkan ke seberang jalan untuk mengunjungi tetangganya, menunjukkan bahwa kedekatan pemiliknya dengan wilayahnya bukanlah kunci dari pemahaman mereka. Selanjutnya, anak-anak yang lebih tua dapat mempertimbangkan sejarah dan peristiwa masa lalu ketika menentukan kepemilikan. Misalnya, ketika seekor anjing membawa benda ke halaman, anak-anak berusia lima tahun tahu bahwa bola itu kemungkinan milik orang lain.
"Orang-orang sering khawatir tentang posesifnya anak-anak mereka - 'ini punyaku' - tetapi saya kira mereka sering memiliki intuisi seperti orang dewasa tentang kepemilikan," kata Ori Friedman, tim peneliti dan juga profesor psikologi.
"Seringkali, kita mengasumsikan kita memiliki undang-undang yang dipahami para ahli hukum, dan orang-orang mempelajarinya dan meneruskannya. Namun, mungkin ada cara lain untuk melihatnya: bahwa psikologi kita membentuk budaya dan hukum kita. Keputusan anak-anak sangat sejalan dengan hukum, namun mereka mungkin tidak menyadari konvensi hukum tersebut," lanjut Friedman.
Secara keseluruhan, penelitian menunjukkan bahwa penilaian anak-anak lebih sejalan dengan orang dewasa daripada yang kita duga.
Studi lengkap "The development of territory-based inferences of ownership" ada di jurnal Cognition.
Eureka Alert
Temuan ini juga menunjukkan bahwa anak-anak dapat merasakan kepemilikan suatu barang tanpa harus melihat seseorang berinteraksi dengan barang itu. Mereka secara intuitif tahu siapa yang memiliki barang tersebut, bahkan meski orang tuanya tidak menunjukkan hal itu kepada mereka.
"Penelitian sebelumnya melihat bagaimana anak-anak memahami kepemilikan suatu objek setelah seseorang berinteraksi dengan objek itu atau membicarakannya. Namun di dunia nyata, kita dikelilingi objek yang tidak ada orang yang berinteraksi atau dekat dengannya, dan itu tetap hal penting untuk diketahui siapa memiliki apa," kata Brandon W. Goulding, peneliti utama dan kandidat PhD di Departemen Psikologi.
"Salah satu cara yang dapat kita lakukan adalah menyadari seluruh area berada di bawah kepemilikan seseorang, dan karena itu, kita dapat menyimpulkan segala sesuatu di area tersebut dimiliki oleh orang itu. Dengan begitu, Anda tidak perlu khawatir untuk belajar ratusan hubungan individu pemilik-barang."
Penelitian ini melibatkan anak-anak yang berusia tiga hingga lima tahun. Dalam serangkaian percobaan, para peserta diperlihatkan slide yang menggambarkan dua halaman dibagi oleh jalan dan mengatakan satu rumah milik seseorang dan yang lain tetangganya. Setiap halaman berisi berbagai benda seperti bunga atau mesin pemotong rumput. Tanpa diberitahu informasi apa pun tentang benda-benda itu, anak-anak diminta untuk menentukan apakah mereka milik orang itu atau tetangganya.
Anak-anak dari segala usia dalam penelitian ini dapat menyimpulkan bahwa orang tersebut memiliki benda-benda di halamannya, tetapi bukan benda di halaman tetangga. Peserta masih dapat menyimpulkan tentang kepemilikan ketika orang tersebut dipindahkan ke seberang jalan untuk mengunjungi tetangganya, menunjukkan bahwa kedekatan pemiliknya dengan wilayahnya bukanlah kunci dari pemahaman mereka. Selanjutnya, anak-anak yang lebih tua dapat mempertimbangkan sejarah dan peristiwa masa lalu ketika menentukan kepemilikan. Misalnya, ketika seekor anjing membawa benda ke halaman, anak-anak berusia lima tahun tahu bahwa bola itu kemungkinan milik orang lain.
"Orang-orang sering khawatir tentang posesifnya anak-anak mereka - 'ini punyaku' - tetapi saya kira mereka sering memiliki intuisi seperti orang dewasa tentang kepemilikan," kata Ori Friedman, tim peneliti dan juga profesor psikologi.
"Seringkali, kita mengasumsikan kita memiliki undang-undang yang dipahami para ahli hukum, dan orang-orang mempelajarinya dan meneruskannya. Namun, mungkin ada cara lain untuk melihatnya: bahwa psikologi kita membentuk budaya dan hukum kita. Keputusan anak-anak sangat sejalan dengan hukum, namun mereka mungkin tidak menyadari konvensi hukum tersebut," lanjut Friedman.
Secara keseluruhan, penelitian menunjukkan bahwa penilaian anak-anak lebih sejalan dengan orang dewasa daripada yang kita duga.
Studi lengkap "The development of territory-based inferences of ownership" ada di jurnal Cognition.
Eureka Alert
Comments
Post a Comment