Larangan merokok di restoran dan bar terbukti mengurangi merokok, terutama di kalangan berpendidikan tinggi
Risiko merokok turun secara signifikan pada lulusan perguruan tinggi saat mereka tinggal di dekat area yang benar-benar menetapkan larang merokok di bar dan restoran, menurut studi terbaru di American Journal of Epidemiology.
Studi tersebut menemukan bahwa pelarangan tersebut berhubungan dengan pencapaian usaha berhenti merokok yang tinggi oleh para perokok berpendapatan rendah.
"Hasil kami menunjukkan bahwa larangan merokok dapat membantu memulai proses di antara orang-orang dengan status sosial ekonomi rendah dengan membuat mereka lebih mungkin untuk mencoba berhenti merokok, namun masih banyak yang perlu dilakukan untuk membantu menerjemahkannya menjadi penghentian merokok yang sukses," kata salah satu dari periset, Stephanie Mayne, di Sekolah Kedokteran Feinberg dari Northwestern University.
Studi tersebut menghubungkan data kesehatan selama 25 tahun yang dikumpulkan dari perokok berusia muda sampai menengah ke dalam database tentang larangan merokok dari Yayasan Hak Bukan Perokok Amerika.
Data menunjukkan bahwa efek dari larangan merokok tidak seragam. Secara keseluruhan, larangan tersebut tampaknya paling efektif dalam mengurangi risiko merokok pada orang dengan tingkat pendidikan yang lebih tinggi.
Di antara orang-orang dengan setidaknya bergelar sarjana, kecenderungan merokok turun sekitar 20 persen jika mereka tinggal di daerah yang terdapat pelarangan. Studi tersebut juga menemukan bahwa pelarangan itu mengurangi risiko menjadi perokok berat (merokok sebanyak 10 batang atau lebih - setengah bungkus - sehari). Orang yang tingkat pendidikannya tidak mencapai gelar sarjana tidak mengalami penurunan tingkat merokok.
Namun, pengenalan pelarangan tersebut meningkatkan kemungkinan mencoba berhenti merokok di antara mereka yang berpenghasilan rendah. Sekitar 15 persen orang-orang di kelompok berpenghasilan terendah lebih mungkin mencoba berhenti jika mereka tinggal di daerah yang terdapat pelarangan.
"Penanda sukses pemberhentian merokok yang penting adalah usaha berhenti," jelas peneliti studi Amy Auchincloss, PhD, associate professor di Drexel University Dornsife School of Public Health. "Rata-rata, dibutuhkan antara delapan dan 14 upaya untuk akhirnya berhenti."
Banyak penelitian telah menunjukkan bahwa pelarangan merokok mengurangi paparan asap bagi perokok pasif - dan populasi dengan pendidikan rendah memiliki tingkat paparan yang lebih tinggi daripada rata-rata. Jadi, walaupun risiko akibat merokok tampaknya tidak berubah bagi kelompok orang ini dalam penelitian ini, pelarangan tersebut tetap bermanfaat.
Bagaimanapun, penelitian tersebut menunjukkan bahwa pelarangan merokok tidak sepenuhnya mengatasi risiko merokok.
"Ketidaksetaraan dalam dampak larangan merokok menegaskan kebutuhan akan pendekatan multi cabang - termasuk pajak tembakau dan memastikan bahwa perusahaan rokok tidak mempromosikan produk mereka ke populasi rentan - serta memberikan konseling penghentian merokok dan farmakoterapi gratis," kata Auchincloss.
Sumber: Medical Xpress
Studi tersebut menemukan bahwa pelarangan tersebut berhubungan dengan pencapaian usaha berhenti merokok yang tinggi oleh para perokok berpendapatan rendah.
"Hasil kami menunjukkan bahwa larangan merokok dapat membantu memulai proses di antara orang-orang dengan status sosial ekonomi rendah dengan membuat mereka lebih mungkin untuk mencoba berhenti merokok, namun masih banyak yang perlu dilakukan untuk membantu menerjemahkannya menjadi penghentian merokok yang sukses," kata salah satu dari periset, Stephanie Mayne, di Sekolah Kedokteran Feinberg dari Northwestern University.
Studi tersebut menghubungkan data kesehatan selama 25 tahun yang dikumpulkan dari perokok berusia muda sampai menengah ke dalam database tentang larangan merokok dari Yayasan Hak Bukan Perokok Amerika.
Data menunjukkan bahwa efek dari larangan merokok tidak seragam. Secara keseluruhan, larangan tersebut tampaknya paling efektif dalam mengurangi risiko merokok pada orang dengan tingkat pendidikan yang lebih tinggi.
Di antara orang-orang dengan setidaknya bergelar sarjana, kecenderungan merokok turun sekitar 20 persen jika mereka tinggal di daerah yang terdapat pelarangan. Studi tersebut juga menemukan bahwa pelarangan itu mengurangi risiko menjadi perokok berat (merokok sebanyak 10 batang atau lebih - setengah bungkus - sehari). Orang yang tingkat pendidikannya tidak mencapai gelar sarjana tidak mengalami penurunan tingkat merokok.
Namun, pengenalan pelarangan tersebut meningkatkan kemungkinan mencoba berhenti merokok di antara mereka yang berpenghasilan rendah. Sekitar 15 persen orang-orang di kelompok berpenghasilan terendah lebih mungkin mencoba berhenti jika mereka tinggal di daerah yang terdapat pelarangan.
"Penanda sukses pemberhentian merokok yang penting adalah usaha berhenti," jelas peneliti studi Amy Auchincloss, PhD, associate professor di Drexel University Dornsife School of Public Health. "Rata-rata, dibutuhkan antara delapan dan 14 upaya untuk akhirnya berhenti."
Banyak penelitian telah menunjukkan bahwa pelarangan merokok mengurangi paparan asap bagi perokok pasif - dan populasi dengan pendidikan rendah memiliki tingkat paparan yang lebih tinggi daripada rata-rata. Jadi, walaupun risiko akibat merokok tampaknya tidak berubah bagi kelompok orang ini dalam penelitian ini, pelarangan tersebut tetap bermanfaat.
Bagaimanapun, penelitian tersebut menunjukkan bahwa pelarangan merokok tidak sepenuhnya mengatasi risiko merokok.
"Ketidaksetaraan dalam dampak larangan merokok menegaskan kebutuhan akan pendekatan multi cabang - termasuk pajak tembakau dan memastikan bahwa perusahaan rokok tidak mempromosikan produk mereka ke populasi rentan - serta memberikan konseling penghentian merokok dan farmakoterapi gratis," kata Auchincloss.
Sumber: Medical Xpress
Comments
Post a Comment